Rasanya aku bosan untuk meninggalkan jejak saat hidup di dunia ini. naïf kalau kubilang aku ingin meninggalkan kehidupan ini, sekarang … pada saat aku ingin sekali menikmatinya. Masa yang kata orang adalah masa terindah dalam hidup. Waktu-waktu inilah kau rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya hingga pita suaramu robek dan terkoyal-koyak, tetapi kau tau kau tidak dapat melakukannya. Kau tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan itu. Kau hanya bisa pasrah.
Aku tahu, tidak banyak yang bisa dilakukan seorang anak remaja yang baru berusia 19tahun, belum ada apa-apanya! Paling hanya jadi ketua team olahraga atau klub ‘tetek bengek’ lainnya lagi.
Aku RANGGA, bukan orang sembarang orang, bukan anak sembarang anak. aku hanya ingin mencicipi sedikit dari begitu banyak hal yang dinikmati orang-orang di dunia ini. hal yang terkadang lolos dari pikiran kita, melupakannya dan akhirnya baru menyadari bahwa kita begitu membutuhkannya karena dia lebih penting di dunia. Hal bernama “KEBEBASAN” yang masih kupertanyakan pada diriku sendiri. Tak lebih dari 1 kata, tak lebih dari 10 huruf, dan tak sulit mengucapkannya.
Pernahkah kau bayangkan apa yang akan terjadi, senadainya untuk berfikir pun kau dilarang? Kau hanya bisa menurut pada apa yang diajarkan kepadamu dan percaya sepenuhnya pada hal tersebut, seperti anak kecil yang tidak menolak ketika ditawari permen Sugus oleh Teletubies warna-warni yang menggemaskan. Pernahkah terpikir jika kau tidak boleh menggerakkan kelilingking kirimu sampai kau diperbolehkan untuk itu? Yang paling parah adalah bila kau dilarang untuk berperasaan! Bahkan orang yang tidak tau apa itu cinta dan belum pernah merasakan cinta seumur hidupnya pasti menyadari kala cinta itu datang kepadanya meski tanpa di undang, tanpa disangka.
“semua orang tahu harumnya bunga mawar, tapi dapatkan kau mendeskripsikan harumnya dgn kata-kata? (Confucius)”
Lantas apa enaknya jadi manusia bila selalu dibatasi ? Aku yakin kau sendiri belum tentu bisa menjawabnya. Seandainya dibikin forum diskusi tentang hal itu, mungkin bakal tercipta polemic baru yang tidak akan selesai dalam hitungan bulan. Tidak ketinggalan lusinan dus air minum kemasan untuk menelan haus orang-orang berkepala batu yang selalu menggangap dirinya paling benar. Begitulah mental orang tuaku, mama dan papaku
Apa dia pikir karena telah menghidupi keluarganya maka dia boleh menggangap dirinya paling benar ? apa karena dia yang memberi makan diriku sejak kecil maka aku harus menuruti setiap perkataannya tanpa ba-bi-bu sedikitpun? Apa aku sebagai seorang manusia yang dibekali akaln dan pengetahuan tidak berhak untuk menjadi diri sendiri?
Entah sudah berapa kali beliau berkata “Kalau kamu nggak mau denger apa kata Papa, kamu boleh ko keluar! Pergi
Ucapan santai itu selalu mengakhiri perdebatan kami jika ku utarakan keinginanku . saat kalimat tersebut meluncur dari bibirnya, berarti sudah final answer. Tidak ada satupun di dunia ini yang mampu mengubah keputusannya. Aku pernah berpikir mungkin kalau kematian atau hal-hal mengerikan semacamnya terjadi padaku, kepalanya yang lebih keras dari batu baru akan luluh. Tapi ternyata tidak juga.
“Coba hidup ini kayak game, bisa di-loading ulang kalau aku sudah mati …”
Perasaan apa yang muncul di hatimu jika mendengar papamu sendiri orang yang selama ini kau hormati berkata begitu kejam? Apa yang mungkin terlintas di otakmu ketika kau tau bahwa orangtua mu tidak menginginkan kebahagiaan untukmu? Dia hanya ingin kepatuhan, bukan sebagai anak tapi mungkin sebagai budak!
Aku tahu, usia belasan adalah masa puberitas atau ABG. Masa yang tanggung untuk seorang anak manusia, masanya ‘menentang dan melawan kehendak orang tua’. Tapi aku sungguh tidak menyangka kalau keinginanku untuk ‘memberontak’ begitu kuat dan menggelora. Bukan dalam arti seperti teman-teman lain yang suka menghabiskan waktu dan ‘membakar’ uang dengan main game di warnet, Judi atau nongkrong-nongkrong nggak jelas di Mal. Sebaliknya aku lebih memilih untuk berdiam dirumah sekedar, bermain Psp, membaca buku entah komik atau apapun atau bersilat lidah tentang isu-isu terbaru.
“apa sih yang ada di pikiran mereka? Kapan lagi mereka mau mulai belajar kalau bukan sekarang?”
Apa lagi yang lebih membanggakan orang tua selain melihat anaknya berprestasi dan memiliki pergaulan luas serta dipercaya teman-temannya? Aku tidak tahu, tapi aku yakin kebanyakan orang pasti setuju itulah yang paling membanggakan. Betapa irinya hatiku melihat orangtua teman-temanku selalu memberikan selamat kepada anaknya, berupa hadiah pelukkan saat menerima hasil belajar. Sedang orang tuaku sendiri tidak pernah berkata apa-apa walaupun aku selalu berhasil meraih nilai-nilai yang memuaskan. Malah aku dimarahi jika nilaiku tidak berada ditempat yang seharusnya. Aku jadi bimbang, mana yang lebih penting: masa remaja penuh gelora atau zaman ‘keemasa’ yang hanya disesaki persiapan?
Ketika aku memenangi sebuah kompetisi band tingkat provinsi, Papaku malah menghela nafas dan berkata kalau aku kurang kerjaan. Saking kesalnya, nyaris aku melemparkan pialan yang kudapat dengan susah payah itu ke mukanya. Untung saja pujian tulus dari Oma dan Opaku berhasil menyingkirkan pikiran mengerikan itu dari kepalaku.
Aku tidak pernah habis pikir, apa sih yang mereka mau dariku? Memang mereka itu orang perfeksionis, sellau ingin semuanya serba perfect, sempurna! Apa mereka mengalami disfungsi memori di otaknya sehingga tidak pernah mendengar pepatah bahwa ‘segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan sendiri’? Aku sudah memberikan yang terbaik semampuku tapi dia justru memberiku aku gelar MBA (Masih Belum Apa”) sebagai alasannya.
“Aku jadi malas kuliah,
Lebih buruk lagi, beliau juga memasung kehidupan sosialku. Padahal teori Aristoteles menyebutkan bahwa sudah kodratnya manusia selalu berkumpul (man is by nature a political animal) jadi wajar kalau harus bersosialisasi. Beliau malah tidak senang jika melihat bahkan mendengar aku pergi bersama teman-temanku.
Orangtuaku tidak terlalu memperdulikan kalau aku seorang manusia yang juga perlu teman. Teman dalam arti sebenarnya. Teman yang selalu ada jika dibutuhkan. Teman yang selalu mendengarkan meski dia tidak mengerti apa yang dibicarakan. Teman yang akan membukakan pintu untukmu walaupun kau belum sampai di rumahnya. Teman yang akan menemani juga memegangi tanganmu ketika kau ketakutan saat berada dalam ruang sempit dan gelap. Teman yang memelukmu serta mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja ketika kau menangis dan tidak tahu harus berbuat apa.
Bagi mereka yang terpenting adalah aku tetap berada dirumah, tidak kemana-mana dan pekerjaanku hanya belajar, belajar dan terus belajar! Karena itulah akhirnya mereka melakukan pengawasan ketat sehingga aku tidak bisa pergi ke sembarang tempat. Aku diharuskan minta izin terlebih dahulu kemanapun aku pergi meski jawabannya hampir selalu kata “TIDAK”. Soal membawa kendaraan sendiri juga tidak ada bedanya. Maka itu aku sering memilih kabur diam-diam tanpa sepengetahuan mereka dan cepat-cepat pulang sebelum mereka tiba dirumah. Seandainya mereka sudah pulang lebih dulu, aku harus siap untuk menerima segala resikonya, dimarahi atau apapun.
“I mish that my parent wasn’t that subborn ..”
sudahlah, tidak bisa kalau keadaannya begini treys!
Aku bosan! Aku muak! Aku mau bebas. Hidup bebas, sebebas-bebasnyaaaa..!!!
Dan kini langkah yang kutapakkan adalah kehilangan keluargaku, orang tuaku, teman, sahabat dan cinta.
Engga ada yang lebih menyakitkan dibanding dicuekin orangtua. Ya, sudah hampir 1 bulan keduaorangtuaku memilih untuk diam dan tak bicara padaku. Sahabatku sudah sibuk dengan dunia mereka, aku tau mereka punya urusan yang lebih penting, dan aku tidak mau tergantung untuk slalu dirangkul mereka. Temanku membawaku semakin jatuh kedalam jurang kehancuran, malam 7maret2010
Dan aku pun terpisah jua …
Dari belenggu ikat kebebasan
Bukan suka yang ku harap ada
Tapi pedih pahit yang begitu terasa …
-gagasandoval

Tidak ada komentar:
Posting Komentar